Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Harian Katolik Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Minggu 15 Agustus 2021

Renungan Harian Katolik Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Minggu 15 Agustus 2021

Bacaan Pertama 11:19a:12:1-6a.10ab

Mazmur Tanggapan: Mazmur 45:10c-12.16

Bacaan Kedua 1 Korintus 15:20-26

Bacaan Injil Lukas 1:39-56

Bacaan Injil Lukas 1:39-56

Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah

Beberapa waktu sesudah kedatangan malaikat Gabriel, bergegaslah Maria ke pegunungan menuju sebuah kota di wilayah Yehuda. Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring; “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.” Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah Kudus. Rahmat-Nya turun temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Kira-kira tiga bulan lamanya, Maria tinggal bersama dengan Elisabet, lalu pulang ke rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Minggu 15 Agustus 2021

Kita umat katolik percaya bahwa Maria diangkat ke surga, karena kita percaya bahwa Maria dikandung tanpa cela. Maria dibebaskan oleh Allah dari dosa, maka ia tidak mengalami konsekuensi dosa dan kematian yang akan kita alami. Kita percaya bahwa berkat ketaatan dan kesetiaannya S.P. Maria pada akhir hidupnya di dunia ini diangkat dengan tubuh dan jiwa-nya kepada kemuliaan di surga.

Renungan Harian Katolik Hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Minggu 15 Agustus 2021

Pada tahun 1950 Paus Pius XII menegaskan ajaran Gereja, bahwa “Maria sesudah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat tubuh dan jiwanya kepada kemuliaan di surga” (Munificentissimus Deus, 1950).Kita gembira, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan diselenggarakan pada hari Minggu, sehingga lebih banyak umat dapat ikut merayakannya. Dalam perayaan ini kita akan merenungkan makna Maria diangkat ke surga yang sangat relevan, penuh arti bagi hidup kita.Kenaikan Bunda Maria ke surga merupakan sumber harapan dan kegembiraan. Hidup kita sebagai orang beriman merupakan cakrawala kebahagiaan abadi. Kematian kita nanti bukanlah akhir hidup kita, melainkan awal hidup baru, yang tak akan mengenal akhir!

Kita umat Katolik percaya, Maria diangkat ke surga, karena kita percaya, Maria dikandung tanpa noda. Maria dibebaskan oleh Allah dari dosa, maka ia tidak mengalami konsekuensi dosa dan kematian yang akan kita alami. Kita percaya, berkat ketaatan dan kesetiaannya Bunda Maria pada akhir hidupnya di dunia ini diangkat dengan tubuh dan jiwa-nya kepada kemuliaan di surga.

Dalam Injil Lukas kita mendengar ungkapan kegembiraan luarbiasa yang dialami Maria dan Elisabet. Kedua wanita itu berbagi rasa iman, harapan dan kebahagiaan. Elisabet perempuan tua, yang bersuami namun mandul, Maria perempuan muda yang bertunangan namun mengandung.Di sini tampaklah, Allah mampu membangkit hidup dari kandungan yang mandul, tetapi juga membangkitkan orang dari makam orang mati! Demikian Maria adalah suatu model bagi kita semua, dan kenaikannya ke surga mengingatkan dan meneguhkan keyakinan dan harapan kita!

Apa yang dialami Perawan dari Nasaret itu pada akhir perjalanan hidupnya juga akan dapat kita alami! Ada syaratnya! Yakni sejauh kita mau dan bersedia tetap taat dan setia seperti Maria! Pesan bacaan pertama yang mau disampaikan dalam perayaan Bunda Maria diangkat ke Surga hari ini adalah tanda agung karya Allah bagi manusia yang percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya. Bunda yang kini diangkat ke surga, bukan hanya seorang ibu yang menikmati kemuliaan itu untuk dirinya, melainkan menjadi tanda cara Allah berkarya dan masih akan berkarya bagi manusia. Bunda Maria yang diangkat ke surga menjadi model bagi semua yang percaya kepada Yesus Kristus Anaknya. Orang yang percaya, berjuang seperti Bunda Maria, juga akan mendapatkan kemuliaan seperti yang dilukiskan di atas.

Selanjutnya, pesan bacaan kedua yang hendak disampaikan ialah bahwa kehidupan jemaat berlang­sung dalam satu ketegangan, karena kekuatan Allah itu sudah menjadi kenyataan, tetapi juga belum sampai pada kepenuhannya. Bunda Maria yang diangkat ke surga tentu sudah sampai pada kepenuhan itu. Ia menjadi model bagi perjuangan orang beriman kini, yang masih harus mengisi iman dengan perjuangan.

Maria sebagai ibu penebus, menjadi lambang kehadiran Allah dalam kehidupan jemaat beriman, bagai Tabut Perjanjian. Kehadiran Tabut itu memberikan sukacita besar, demikian juga Bunda Maria yang mengandung Anak-Nya berkat kekuatan Roh Kudus. Kegembiraan itu tidak hanya dirasakan Bunda Maria, tetapi juga diwartakan kepada saudarinya Elisabeth. Maria bahkan tinggal di rumah saudarinya dan menularkan kegembiraan tersebut. Kehadiran Bunda Maria sebagai Tabut Allah yang baru, akhirnya juga menyebabkan Elisabeth merasakan kegembiraan besar itu. Seperti halnya raja Daud melampiaskan kegembiraannya di depan Tabut Perjanjian. Kata-kata Elisabeth mencerminkan kata-kata yang diucapkan Daud di depan tabut Perjanjian tersebut.

Bagi Bunda Maria sendiri, peristiwa itu merupakan alasan untuk bersyukur atas segala perbuatan Allah. Allah memper­hati­kan hambanya yang setia. Pujian Maria sesungguhnya merupakan pujian atas karya besar Allah yang terlaksana dalam sejarah kehidupan manusia, dan yang sepantasnya memang dikagumi. Kalau Bunda Maria yang kini diangkat ke surga dilukiskan dengan lukisan dari Perjanjian Lama, maka yang hendak diperhatikan ialah bagaiamana Allah setia pada janji-Nya dalam sabda maupun dalam karya-Nya. Bunda Maria yang kini diangkat ke surga menjadi semacam jaminan bagi semua orang beriman yang berjuang dalam naungan ibu itu, bahwa Allah juga tetap setia pada janji yang telah diucapkan bagi mereka.Pengangkatan Bunda Maria menjadi semacam arah atau orientasi bagi semua jemaat beriman agar bersama Bunda Maria berjuang melaksanakan karya penyelamatan Allah sehingga Allah memenuhi janji-Nya dalam kehidupan bersama.

Kisah tentang dua orang wanita, dalam Injil Lukas ini, Maria dan Elisabet, kedua-duanyasaling berbagi iman, harapan dan kebahagiaan sebagai seorang perempuan yangmempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Elisabetsebagai orang berusia lanjut yang semula mandul, dan Maria seorang gadis bertunangan namun mengandung. Terungkaplahdalam ceritera itu betapa agung kuasa Allah untuk mengadakan dan memeliharakehidupan! Allah berkuasa membangkitkan hidup dari rahim yang mandul, tetapijuga dari makam-makam orang yang sudah mati. Dan perjalanan jauh Maria dariNasaret ke daerah pegunungan Yudea untuk mengunjungi Elisabet adalah jugagambaran kedatangan Kerajaan Allah.

Ada tiga makna dari ungkapan sambutan Elisabet. Yang pertama, Maria disebut sebagai wanita yang diberkati karena terpuji di antara segala wanita. Dialah satu-satunya wanita yang dipilih untuk mengandung Anak Allah, atau yang Kudus dari Allah. Yang kedua, diberkatilah juga buah rahimnya, yaitu Yesus. Yang ketiga, Maria disebut bahagia oleh Elisabet karena ia telah percaya akan kebenaran sabda Tuhan.

Bunda Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan raganya juga menjadi model bagi kita untuk berjalan menuju kepada Bapa. Kekudusan Bunda Maria menginspirasikan kita untuk berbuat baik, mewartakan kebahagiaan kepada sesama supaya setiap generasi manusia senantiasa mengenal Allah sebagai Bapa yang kekal, Bapa yang Mahabaik. Bunda Maria diangkat ke Surga menjadi ratu surga dan dunia. Dia mendoakan dan memimpin kita kepada Yesus Putranya.

Tentang Maria diangkat ke surga ini, Paus Benedictus XVI pernah berkata: “Denganmemandang Maria dalam kemuliaannya di surga, kita memahami, bahwa dunia inibukanlah tanahair kita yang definitif. Dan bila kita hidup sambil memperhatikanhal-hal abadi (surgawi), maka pada suatu saat kita akan mengambil bagian dalamkemuliaan yang sama, dan dunia kita ini akan menjadi makin indah. Bilademikian, kita jangan pernah kehilangan kejernihan hati dan damai kita,walaupun berada di tengah beribu-ribu kesukaran. Tanda berkilau-kilauan SantaPerawan yang diangkat ke surga akan bersinar lebih cemerlang, apabilabayangan-bayangan kesedihan, penderitaandan kekerasan nampak di dalam cakrawala hidup kita. Hendaklah kita yakin, bahwa dari atas Maria mengikuti tapak-tapak kaki kita dengan keprihatinan yang lembut, menyingkirkan kesuraman dalam saat-saat kegelapan dan kesedihan. Ia memberi kepastian dengan tangannya sebagai Ibu kita. Marilah terus kitalanjutkan hidup kita di bawah bimbingan Maria” (Castel Gandolfo, 16 Agustus 2006).

Jiwaku memuliakan Tuhan

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga. Kita sebenarnya merayakannya setiap tanggal 15 Agustus, namun pada tahun ini Gereja Katolik di Indonesia memajukannya pada hari ini, bertepatan dengan Hari Minggu Biasa ke-XIX/A. Tentu saja Gereja Katolik di Indonesia bermaksud untuk membantu umat sekalian supaya lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yesus Kristus melalui Bunda Maria. Semboyan “ad Iesum per Mariam” atau menuju kepada Yesus melalui Bunda Maria menjadi semakin dihayati oleh setiap pribadi. Saya yakin bahwa banyak orang katolik sepakat dengan semboyan ini sebab Bunda Maria senantiasa mendoakan dan mendekatkan kita kepada Yesus Kristus Puteranya sekaran dan di saat ajal sebagaimana kita doakan dalam doa Salam Maria.

Mengutip perkataan St. Yohanes Krisostomus yang berbunyi: “Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan.” Perkataan St. Yohanes Krisostomus ini membuka wawasan kita untuk memandang Bunda Maria dengan hati yang penuh kasih kepadanya. Bunda Maria adalah orang kudus yang memberikan teladan kekudusan dengan hidup tanpa cela di hadirat Tuhan. Tubuhnya tidak ada cacat dan cela secara jasmani dan rohani. Ia dikandung tanpa noda dosa. Ini menjadi alasan mendasar mengapa Gereja percaya bahwa Bunda Maria layak untuk bersatu dengan Tuhan Allah Tritunggal yang Mahakudus di surga.

Baca Juga: Renungan Harian Katolik Minggu 15 Agustus 2021

Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik Munificentimtissimus Deus menulis seperti ini: “…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (MD 44). Bunda Maria adalah orang kudus yang tubuh dan jiwanya diangkat ke dalam kemuliaan surgawi. Ia menunjukkan teladan kekudusan bagi kita dan kita pun akan menjadi serupa dengannya kelak. Konsili Vatican II ikut menegaskan dogma Munificentissimus Deus: “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium, 59).

Apa kata Sabda Tuhan pada hari ini?

Dalam bacaan pertama dari Kitab Wahyu, kita mendengar bagaimana Tuhan memiliki rencana yang indah bagi seorang wanita yang digambarkan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari duabelas bintang di atas kepalanya. Perempuan itu sedang mengandung dan merasakan kesakitan menjelang ia bersalin. Perempuan itu akhirnya melahirkan seorang Anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi. Anak laki-laki itu direnggut dan dibawa lari kepada Allah dan kepada takhta-Nya. Sedangkan perempuan itu lari ke padang gurun di mana Tuhan Allah sendiri sudah menyediakan tempat baginya.

Kehadiran perempuan dan anaknya itu bukan berarti semuanya baik-baik saja. Yang terjadi justru ada ancaman serius terhadap anak yang akan dilahirkan. Sebelumnya, dikisahkan bahwa ada seekor naga merah padam, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, bermahkota tujuh. Ekornya berhasil menyapu sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya di atas bumi. Naga tersebut bahkan berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan ini segera sesudah melahirkan anaknya. Untungnya naga tersebut tidak berhasil menelan anak yang dilahirkan sebab Allah melindunginya.

Dalam kacamata Kristiani, perempuan ini adalah gambaran dari Bunda Maria sendiri. Ia mengandung dan melahirkan Yesus, sang Terang sejati yang nantinya akan mengalahkan kegelapan maut dan semua kejahatan di atas dunia. Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang lahir bagi manusia. Ia adalah satu-satunya penyelamat kita. Bunda Maria sendiri sudah berada di tempat yang disediakan Allah baginya. Kita sebagai gereja masa kini, perlu bertekun dalam hidup terutama ketika berhadapan dengan berbagai pengalaman penderitaan dan kemalangan. Pengalaman penderitaan hendaknya membawa kita kepada kebahagiaan kekal. Sama seperti Bunda Maria yang mengalami penderitaan demi keselamatan kita, demikian juga kita saat ini hendaknya berjuang untuk menyelamatkan sesama yang lain. Sangh Pemazmur hari ini mengatakan dengan tepat perkataan ini: “Segala keturunan akan menyebut aku bahagia” (Mzm 45:10d). Bunda Maria akan mengulanginya dalam Magnificat.

Dalam bacaan kedua, kita mendengar St. Paulus mengakui bahwa Kristus adalah buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi miliknya. Perkataan Paulus ini berkaitan dengan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Paulus menghubungkan pengalaman Adam yang jatuh ke dalam dosa asal dan berpengaruh terhadap seluruh hidup manusia dari segala generasi. Adam hanya satu orang yang jatuh ke dalam dosa dan menyebabkan semua orang berdosa. Yesus Kristus tidak berbuat dosa, namun Ia rela wafat dan bangkit untuk menyelamatkan semua manusia yang berdosa. Manusia pun akan hidup kembali bersama Yesus, satu-satunya yang bangkit dari kematian. Orang-orang mati hidup dalam persekutuan dengan Adam, sedangkan orang-orang yang hidup akan bersatu dengan Kristus. Kristus menjadi Raja dan semua makhluk tunduk kepada-Nya. Tuhan Yesus memang luar biasa. Kebangkitan-Nya membebaskan dan menghidupkan kita semua. Jiwa kita hendaknya memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Kekudusan Bunda Maria tidak hanya tergambar dalam perkataan tetapi lebih-lebih dalam tindakannya. Penginjil Lukas melukiskan bagaimana Bunda Maria menjadi pelayan bagi keluarga Elizabeth. Setelah menerima khabar sukacita, ia bergegas ke Ayin Karem, untuk melayani Elizabeth saudaranya yang sedang siap untuk melahirkan Yohanes Pembaptis. Perjumpaan Bunda Maria dan Elizabeth adalah perjumpaan penuh sukacita sebagai abdi Tuhan. Maria dan Elizabeth adalah dua wanita yang sama-sama mengalami kehadiran Roh Kudus. Sebab itu ketika Bunda Maria menyalami Elizabeth maka Elizabeth pun penuh dengan Roh Kudus dan bersukacita. Yohanes yang berada dalam kandungan Elizabeth pun melonjak kegirangan ketika berjumpa dengan Yesus dalam kandungan Maria. Elizabeth bersukacita dan dengan iman berkata: “Berbahagialah ia yang tekah percaya sebab Firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana”. Bunda Maria menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan dengan mengatakan Magnificatnya.

Mengutip perkataan seorang Bapa Gereja bernama Theoteknos dari Livias (600), yang mengatakan: “Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan.” Semoga jiwa Bunda Maria dan jiwa kita memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Ibu adalah sosok yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ibu adalah sosok perempuan yang seringkali tangguh dan tegar ketika badai kehidupan menghempas. Ibu selalu siap membela anak-anaknya dari segala ancaman dan bahaya apapun. Tak jarang pula, ibu tampil menjadi sosok yang menenangkan dan menguatkan keluarga, saat ada anggota keluarga yang sedang krisis. Sosok ibu bisa dirasakan dari kehadirannya ataupun melalui doa-doanya yang senantiasa didaraskannya mengiringi setiap langkah keluarganya.

Hari ini adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Kita diajak meneladan keteguhan iman Maria. Kita semua percaya, Bunda Maria sungguh menghadirkan sosok ibu dalam kehidupan Yesus sendiri. Bunda Maria menjadi sosok yang tangguh dan tegar bahkan memberikan diri bagi kehadiran PuteraNya. Yang menarik kita teladani, pribadi Maria yang sungguh mengimani setia pada kehendak Bapa, dan itu menjadi kekuatan dalam melangkah sekalipun di saat-saat sulit secara manusiawi. Ungkapan iman Maria yang terbuka pada kehendak Bapa, bahkan sudah ada sejak awal mengandung Yesus. Maria senantiasa mendaraskan doa kepada Bapa untuk senantiasa mengiringi langkah hari demi harinya.

Iman Maria, sebagai ibu Yesus sungguh patut kita teladani. Ungkapan iman Maria sebagai seorang ibu sungguh meneguhkan, “Jiwaku, memuliakan Allah, dan rohku bersukacita di dalam Allah, Juru Selamatku” (Luk. 1:46-47). Konteks peristiwa Maria mengandung Yesus, selalu kita ingat dalam situasi tidak bahagia secara manusiawi. Situasi politik yang juga memanas, di mana Herodes memerintahkan membunuh semua anak laki-laki, menjadi situasi yang sungguh mencekam. Maria, selaku Ibu Yesus, menjalani peristiwa yang “tidak enak” tersebut dalam iman. Betapa Maria percaya pada kehendak Allah sendiri, dan menerima kehendak-Nya dalam sukacita, sekali pun di tengah krisis pada masa itu. Maria tidak melarikan diri atau pun menghindar dari apa yang dipercayakan Bapa, tetapi Maria senantiasa membuka diri pada kehendak Bapa, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk. 1:38).

Kita pun, senantiasa mengalami berbagai peristiwa di dalam kehidupan kita masing-masing. Tidak jarang, kita mengalami peristiwa yang “tidak enak” dalam kehidupan kita, terlebih di situasi pandemi belakangan ini. Banyak di antara kita yang berjuang, baik di kantor, maupun di usahanya sendiri. Tak jarang pula, kita mungkin akan mudah “menggugat” Tuhan, ketika kita mengalami peristiwa-peristiwa hidup yang tidak kita harapkan. Kita bertanya, “Kenapa harus Aku yang mengalami musibah ini? Padahal aku sering menyumbang, rajin beribadah.” Dan masih banyak rentetan kalimat gugatan kita pada Tuhan yang mudah kita lontarkan ketika kita mengalami peristiwa yang “tidak enak”.

Pertanyaan refleksi bagi kita sebagai orang beriman dan pengikut Kristus sendiri, “Bagaimana kita mau menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan kita?” Kita sebagai orang beriman Katolik, percaya Tuhan senantiasa menyertai langkah kehidupan kita. Maria memberikan teladan iman kepada kita, untuk percaya dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Mari belajar dari keteladan iman Maria, yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya, melalui doa-doa yang Ia daraskan.

Kita diajak membuka diri dan menyertakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita, melalui doa-doa yang kita daraskan bersama dalam keluarga (program GEMATI). Semoga ketekunan iman di dalam keluarga kita, juga memampukan kita untuk berseru, “Jiwaku, memuliakan Allah, dan rohku bersukacita di dalam Allah, Juru Selamatku (Luk. 1:46-47).

Mari kita percayakan diri kita selalu kepada Bunda Maria. Kita dipanggil bukan untuk sukses, melainkan untuk setia! Bunda Maria, doakanlah kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Renungan Harian Katolik, Renungan Katolik, Renungan Katolik Hari ini, Bacaan Injil Hari ini, Injil Hari ini, Renungan Pagi Katolik, Renungan Harian Katolik Hari ini, Renungan Hari ini Katolik, Bacaan Harian Katolik, Bacaan Liturgi Hari ini, Bacaan Katolik Hari ini, Bacaan Injil Hari ini Katolik, Injil Katolik Hari ini, Bacaan Hari ini Katolik, Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Doa Katolik.