Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bacaan Liturgi dan Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022

Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022 Hari Minggu Prapaskah Ke-V Warna Liturgi Ungu.

Bacaan Pertama: Yes: 43:16-2

Mazmur Tanggapan: Mzm. 126:1-2cd-3.4-5.6

Bacaan Kedua: Flp. 3:8-14

Bait Pengantar Injil: Yl 2:12-13

Bacaan Injil: Yoh. 8:1-11

Bacaan Liturgi dan Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022

Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022

Berikut ini Bacaan dan Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022, Lengkap Bacaan Pertama, Bacaan Kedua, Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil serta Bacaan Injil.

Bacaan Pertama: Yes: 43:16-2

Aku hendak membuat sesuatu yang baru dan Aku akan memberi minum umat pilihan-Ku.

Tuhan telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat; Ia telah menyuruh kereta dan kuda keluar untuk berperang, dan membawa tentara serta pasukan yang gagah, yang terbaring dan tidak dapat bangkit lagi, yang sudah mati dan padam laksana sumbu.

Beginilah firman Tuhan yang telah melakukan semua itu, “Janganlah mengingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh; belumkah kamu mengetahuinya?

Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

Binatang hutan akan memuliakan Aku, demikian pula serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku.

Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 126:1-2cd-3.4-5.6

Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.

  • Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
  • Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
  • Pulihkanlah kepada kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
  • Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bacaan Kedua: Flp. 3:8-14

Oleh karena Kristus aku telah melepaskan segala sesuatu, sambil membentuk diri menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.

Saudara-saudara, segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.

Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia, bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada Kristus, yaitu kebenaran yang dianugerahkan Allah berdasarkan kepercayaan.

Yang kukehendaki ialah: mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, dan bersatu dalam kematian-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya akhirnya aku pun beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Bukan berarti aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya; tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku, dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku; aku berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil: Yl 2:12-13

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Berbaliklah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, sabda Tuhan, sebab Aku maha pengasih dan penyayang.

Bacaan Injil: Yoh. 8:1-11

Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.

Sekali peristiwa Yesus pergi ke Bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya.

Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah, lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian.

Apakah pendapat-Mu tentang hal ini?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya.

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”

Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah. Tetapi setelah mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.

Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu, yang tetap di tempatnya.

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawab perempuan itu, “Tidak ada, Tuhan.”

Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022

Renungan Harian Katolik Hari ini Minggu 3 April 2022, Perzinahan itu dosa yang serius. Kitab Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21, menegaskan bahwa berzina adalah larangan langsung dari sepuluh perintah Allah. Perempuan yang kedapatan berzinah itu sungguh berdosa berat.

Banyak orang mengelilingi perempuan itu. Mereka siap-siap untuk menghukum karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh perempuan itu. Bisa kita bayangkan betapa riuhnya situasi yang demikian.

Belum lagi betapa malunya si perempuan yang perbuatan asusilanya terungkap dan diseret di hadapan Yesus itu. Saat itu ahli Taurat dan orang Farisi bisa saja langsung menghukum mati perempuan tersebut.

Namun mereka justru membawanya kepada Yesus untuk meminta pendapat Yesus untuk mendapatkan kesalahan Yesus, dengan demikian mereka memiliki alasan untuk menyingkirkan Yesus.

Yesus tahu bahwa orang-orang Farisi dan Ahli Taurat itu hanya bermaksud untuk mencobainya. Yesus menunjukkan reaksi berbeda, Ia menunjukkan belas kasihanNya kepada perempuan itu.

Ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, akhirnya Yesus berdiri dan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”.

Setelah itu Yesus pun kembali membungkuk dan menulis di tanah. Para ahli Taurat dan orang Farisi pun mulai meninggalkan Yesus dan perempuan itu satu persatu mulai dari yang tertua. Mereka sadar, bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak berdosa.

Kepada perempuan itu, Yesus pun bertanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”. Perempuan itu pun menjawab “Tidak ada, Tuhan”.

Yesus pun akhirnya berkata “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.

Perempuan itu akhirnya sadar akan dosanya dan memohon pengampunan dari Yesus, dan Tuhan Yesuspun mengampuni.

Minggu pamungkas masa Prapaskah menampilkan kombinasi tema-tema permenungan yang muncul selama masa tobat ini. Inti permenungan selama masa tobat ini adalah bahwa belas kasih Allah terwujud nyata dalam diri Putra-Nya.

Yesus Kristus yang senantiasa memanggil dan mengundang kita pada pertobatan yang berujung pada pembaruan diri selaras dengan kehendak Allah.

Kasih Allah dan pertobatan manusia menjadi dua tema yang terus-menerus digemakan supaya kita selama masa tobat ini sungguh-sungguh memahami dan menghayatinya.

Dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus duduk dan mengajar orang-orang yang datang kepada-Nya di Bait Allah. Dari antara kerumunan, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menyeret seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

Perempuan ini diperlakukan lebih sebagai benda atau obyek daripada sebagai seorang manusia. Perempuan itu menjadi obyek hukum yang menjadikan orang akan menghakiminya. Sebenarnya perkaranya sudah jelas.

Akibat perbuatannya, si perempuan harus dirajam. Akan tetapi, para penyeretnya ingin mengetahui tanggapan Yesus yang dikenal berbelas kasih itu. Mereka penasaran, apa yang akan dilakukan Yesus terhadap perempuan itu dan terhadap hukum yang berlaku.

Tentu saja Yesus tak tinggal diam. Ia menyuruh mereka satu per satu mulai dari paling tak berdosa untuk melempari perempuan itu dengan batu. Hasilnya, satu per satu mereka pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu.

Ketika tinggal dengan perempuan itu berdua saja, Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Setelah perempuan itu menjawab, Yesus pun tetap tidak menghukumnya.

Ia hanya mengatakan: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Pada titik ini, sang perempuan kembali pada statusnya sebagai manusia. Yesus mengajak berbicara dan menyapanya dengan sebutan ‘engkau’ selayaknya kepada manusia pada umumnya.

Yesus tak menghukum, tetapi juga tak memaafkan perempuan itu. Yesus hanya menempatkan perempuan itu sesuai dengan martabat aslinya. Sebagai manusia, perempuan itu memiliki kesempatan atau peluang untuk memperoleh belas kasih Allah.

Jika berdosa, tentulah ia harus terlebih dahulu melakukan pertobatan. Jelas sekali bahwa yang dibutuhkan manusia bukanlah hukuman atau kata-kata maaf yang menghibur. Manusia lebih membutuhkan kesempatan untuk mengalami dan menikmati belas kasih Allah.

Hal itu bisa diperoleh jika manusia mau bertobat, terus-menerus memperbarui dirinya.

Umumnya dosa kaum alim ulama dan orang-orang yang merasa dirinya saleh, sudah hidup baik dan benar dihadapan Tuhan adalah mudah menghakimi orang lain.

Mereka sulit untuk dapat mentoleransi situasi hidup orang-orang yang salah jalan dan tidak taat pada hukum agama.

Hati mereka menjadi keji dan jahat terhadap sesama yang dianggap berdosa di hadapan Allah.

Inilah yang disebut dosa kesombongan religius. Diantara semua dosa yang ada, dosa yang satu ini justru yang paling berbahaya, sebab yang bersangkutan malah mengira kesalahan yang dilakukannya itu justru suatu tindakan mulia, atau bisa juga dia merasa orang yang paling benar, tidak pernah salah tetapi meiliki kecenderungan menghakimi orang lain.

Mereka tidak menyadari bahwa manusia tidak bisa selamat hanya karena mengandalkan usaha dan perbuatan baiknya sendiri.

Setiap manusia, betapapun baik kehidupan yang sudah dijalaninya, ia tetap membutuhkan belas kasih Tuhan. Oleh karena itu, meskipun kita berusaha menjadi orang baik dihadapan Tuhan.

Namun kita juga harus memiliki jiwa seorang pendosa yang selalu merendahkan diri, merasa tidak pantas, sehingga juga tidak mudah menghakimi orang lain. Dengan memiliki jiwa seorang pendosa, kita dapat terhindar dari apa yang disebut dosa karena kesombongan religius ini.

Menghukum orang yang kedapatan bersalah seperti perempuan yang berzina dan dibawa kepada Yesus, adalah suatu perbuatan yang tidak mengenakkan hati. Karena kita berlaku sebagai hakim atas orang yang bersalah.

Lalu apa hak kita menghukum orang yang bersalah? Tidak gampang karena kita mengambil alih tugas dan kewenangan Tuhan sebagai hakim dalam menghukum orang.

Suatu tindakan yang salah kalau kita main hakim sendiri atas orang yang bersalah, bahkan ada yang bertindak brutal terhadap orang yang bersalah. Mengapa? Karena kita bukanlah Tuhan yang memiliki hak menghakimi.

Yesus saja tidak serta merta memberikan atau melakukan hukuman kepada perempuan yang dihadapkan kepadanya karena kedapatan berzina.

Yesus menerima keadaan perempuan yang berdosa itu dan mulai memberikan penyadaran. Perempuan itu akhirnya sadar akan dosanya dan memohon pengampunan dari Yesus, dan Tuhan Yesuspun mengampuni.

Saudara–saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Itulah perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Tauat itu.

Pertanyaannya Siapakah yang tidak berdosa? Tidak ada yang tidak berbuat dosa. Semua berbuat berdosa. Dalam Mazmur. 51; 7 Daud mengatakan: Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Demikian juga dalam suratnya kepada sidang di Roma Paulus mengatakan: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. (Rom. 3: 10-12). Jika demikian berarti tidak ada yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu lalu melempar perempuan itu.

Tetapi bukankah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu selalu menganggap dirinya suci alias tidak berdosa? Tetapi di depan Yesus mereka tidak dapat menyembunyikan dirinya.

Meskipun mereka tidak mengakuinya secara langsung tetapi sikap mereka menegaskan bahwa mereka juga berbuat dosa. Kita semua juga berdosa.

Tetapi terkadang kita tidak menyadari dan insaf akan hal ini. Sehingga terkesan dan nampak dalam tindakan, perbuatan dan perkataan kita, kita menghakimi sesama kita tanpa kasih.

Bahkan kita tidak merasa bersalah/berdosa dengan menuduh, menghakimi dan menghukum sesama kita. Begitu gampang/mudah kita menuduh dan menghakimi sesama. Bahkan terkadang itu menjadi keseharian kita.

Sehingga sepertinya hal menghakimi orang adalah hal yang biasa. Dan karena biasa merasa nikmat dan enak menuduh dan menghakimi orang lain. Kita tidak sadar bahwa dengan berbuat demikian kita tidak mencerminkan Injil Yesus Kristus itu.

Begitulah perlahan-lahan tapi pasti Kasih yang di berikan Kristus itu mulai pudar dan terkikis dari kehidupan kita.

Kita tidak bertanya diri: Siapakah kita terhadap sesama kita? Siapakah kita terhadap masalah yang menimpa sesama kita? Sehingga kita berani menuduh dan menghakiminya?

Mari kita lihat bersama-sama apa yang dikatakan rasul Yohanes dalam pasal ini. apakah hal itu juga disadari oleh orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat itu? Yohanes mencatat dalam Injilnya; Jika Yesus pagi-pagi benar telah berada lagi di Bait Allah untuk mengajar mereka yang datang kepada-Nya.

Tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebagai para pemimpin umat mereka seharusnya berada di tengah-tengah umat itu; berada di bait Allah untuk mengajar umat Allah.

Mereka harusnya gencar dan bertekun mengajar umat itu dalam kebenaran Sabda itu. Akan tetapi bukan itu yang mereka lakukan. Dan kalaupun mereka ada di tengah-tengah umat Allah mereka melakukan itu hanya demi sebuah ketenaran dan popularitas.

Tujuannya agar posisinya tetap mantap, stabil dan bertambah di kenal. Mereka gencar dan bertekun melakukan banyak hal hanya untuk mempertahankan posisi/kedudukan mereka.

Termasuk diantaranya ketika mereka mencari-cari kesalahan untuk menjebak Yesus. Tujuannya hanya untuk menjatuhkannya dan dengan demikian mereka tetap di kenal sebagai pemimpin yang baik.

Sebab kehadiran Yesus membuat mereka tidak nyaman. Kehadiran Yesus membuat Popularitas mereka menurun; sebab mereka semakin kehilangan pengikutnya dan tidak di percayai lagi, Kedudukan mereka sebagai pemimpin sangat terganggu.

Untuk menjebak Yesus mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan Berzinah. Lalu seperti apakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Apakah Yesus mengatakan sesuai hukum Musa perempuan ini layak di rajam dengan batu?

Atau apakah Yesus melepaskan saja perempuan itu tanpa tindakan apapun? Yang pertama kita membaca Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan itu dilakukannya dua kali. Apa yang di tulis-Nya kita tidak tahu.

Dan menanggapi pertanyaan mereka secara langsung tentu tidak terlalu penting. Karena mereka datang hanya untuk menjebak-Nya. Mereka datang bukan dengan motif yang baik. Sikap Yesus ini tentu sangat membuat malu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu.

Saudara-saudara, tidak perlu kehilangan energi menanggapi orang-orang yang datang dengan motif seperti itu. Sebab bagi mereka jawabanmu yang tepatpun tidak akan berguna.

Sama halnya dengan Yesus di sini bila Yesus menjawab di rajam saja. Maka itu akan di jadikan alasan untuk menfitnah Yesus. Mereka bisa menuduh Yesus orang yang plin plan, orang yang tidak komitmen dan yang tidak tetap pendirian.

Dan orang yang tidak komit tidak layak di jadikan panutan. Dan jika Yesus mengatakan jangan. Yesus akan di fitnah melawan hukum Musa. Karena itu dalam hal seperti ini kita harus belajar dari Yesus Kristus.

Dan seperti Firman Tuhan mengatakan; ujilah segala roh apakah itu berasal dari Allah atau tidak. Kita harus bisa menilai dengan baik apa motif dari orang tersebut menanyakan dan melakukan itu.

Yang kedua Yesus mengatakan: "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut, terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri berdosa. Dan satu persatu mereka pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu.

Saudara-saudara yang kekasih, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, merasa dirinya saleh, merasa dirinya hidup baik dan tidak pernah merasa diri berdosa.

Sikap hidup inilah yang membuat mereka dengan mudah menghakimi orang lain. Sebab itu bagi mereka hanya ada satu pilihan saja yakni melempari perempuan yang berzinah itu dengan batu hingga mati.

Begitu kejam dan bengis tindakan ahli-ahli Taurat dan oranag-orang Farisi itu. Sungguh ketidakadilan tanpa di sadari oleh mereka sedang berlangsung. Jika benar perempuan itu ketangkapan berzinah; pertanyaannya mengapa perempuan itu saja yang di bawa?

Bukankah laki-laki itu juga layak di lempari dengan batu? Sebabnya adalah motifnya yang salah. Bukan karena mereka sungguh berpegang pada hukum Musa. Bukan karena mereka ingin menegakkan Kebenaran itu.

Tetapi hukum Musa hanya di pakai untuk meloloskan niat mereka yang jahat. Sabda Allah di pakai hanya untuk membela dan sebagai alasan yang kuat untuk menutupi kejahatan mereka yang terselubung.

Dan ini adalah kejahatan yang sangat berbahaya. Karena tidak saja menghancurkan bagian-bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Cara ini benar-benar menghancurkan semua yang ada dan yang di miliki seseorang.

Dalam Gereja sering Firman Tuhan dan Aturan Gereja di pakai. Tetapi kerapkali hanya untuk membela diri dan akan menunjukkan apa yang dikatakannya benar. Begitu banyak ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi masa kini.

Mereka memakai Sabda Allah bukan karena ingin menegakkan Kebenaran itu; bukan karena kasih akan TUHAN. Karena motifnya untuk balas dendam dan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa.

Tetapi jangan lupa apapun juga yang di lakukan bila motifnya salah maka hasilnya akan buruk. Karena itu anak-anak Tuhan harus keluar dan meninggalkan kehidupan yang demikian.

Anak-anak Tuhan bukannya memiliki kecenderungan untuk menghakimi dan menuduh orang lain begitu saja; untuk mencari rasa nyaman dan membalaskan dendam karena sakit hati mereka, sebab pernah di buat terluka.

Tidak harus seperti itu tetapi kita harus memiliki kecenderungan untuk terus memperbaiki apa yang telah rusak. Dan terus membenahi hal-hal yang perlu di benahi dalam diri kita.

Sehingga tidak harus menghukum dengan melempari perempuan itu dengan batu karena dosa Zinah yang di lakukannya. Tetapi melakukan tindakan yang tepat dan benar yang membawa perempuan itu kepada tobat.

Hingga akhirnya ia di selamatkan. Sebab jika perempuan itu di hukum karena dosa Zinah yang di lakukannya; bukankah mereka juga berbuat dosa?. Mungkin mereka tidak berzinah seperti perempuan itu. Tetapi dalam dosa lain mereka berkanjang. Seperti dalam hal dusta; mencobai; mencaci maki orang dan sebagainya.

Siapakah yang tidak berdosa? Tentu semua berbuat dosa. Dan karena rasa diri berbuat dosa satu persatu pergi meninggalkan Yesus. Seharusnya jika hal ini yang kita alami bukannya pergi meninggalkan Yesus.

Tetapi dengan rendah hati mengakui dosa kita di hadapan Tuhan. Hari ini orang Kristen di tegur karena dosa yang di lakukannya langsung pergi dan meninggalkan Gereja.

Bukan itu yang kita lakukan sebaliknya mengakui perbuatan dosa kita di hadapan-Nya dengan rendah hati. Sebab lebih baik kekuranganmu atau perbuatanmu di telanjangi daripada tidak. Lalu bagaimanakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu?

Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia tidak mengambil batu lalu melempari perempuan itu. Tetapi memberi penegasan yang sangat menghibur perempuan itu dan mengajukan pertanyaan; Dimanakah mereka? Tidak adakah dari antara mereka yang melempari engkau dengan batu? .... "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Tidak dapat di bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu. Benar-benar ia telah terlepas dari maut yang mengancam hidupnya. Sungguh ia tidak menyangka itu akan terjadi dan dialaminya. Tadinya dia hanya membayangkan batu-batu yang di lempar menimpa tubuhnya. Sudah perkara pasti sekujur tubuhnya akan berlumuran darah.

Akan tetapi semua itu tidak lagi menimpa dirinya. Tidak ada satu batupun yang di lempar dan tidak ada seorangpun yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu dan melemparinya. Sebab berdosa. Demikianlah Yesus telah mengambil batu-batu itu, batu-batu itu tidak mengenai dan mnimpa perempuan itu lagi.

Tubuhnya tidak lagi menderita sakit karena tertimpa batu. Yesus telah menyelamatkannya. Dosa-dosanya yang banyak itu di ampuni. Pergilah dan jangan lagi berbuat dosa mulai dari sekarang.

Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari itu di dengar oleh perempuan itu juga hingga sekarang Kabar baik itu di beritakan kepada kita semua juga hari ini.

Kita tidak berbeda dari perempuan, kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi batu-batu itu telah mengenai dan menimpa Yesus. Ia telah menanggung hukuman itu ganti kita.

Tubuh-Nya berlumuran darah. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.

Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang yakni sejak engkau di panggil dan di selamatkan; jangan dan jangan berbuat dosa lagi. Bukan besok dan nanti tapi mulai dari sekarang.

Jangan tunda dan mengatakan ada waktunya saya bertobat. Sebelum terlambat, sebelum pintu di kunci dari dalam dan sebelum Yesus mengatakan; Aku tidak mengenal kamu. Bertobatlah! Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.

Selama pelayanan di bumi Tuhan Yesus tidak pernah berhenti melayani jiwa-jiwa; kasihNya, kebaikanNya dan kemurahanNya terhadap orang-orang begitu luar biasa, tanpa pandang bulu.

Orang-orang yang sakit, buta, lumpuh disembuhkan, bahkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari dibangkitkanNya. Namun adakalanya Yesus mengeluarkan kata-kata pedas untuk menguji iman dan kesungguhan mereka seperti yang Ia katakan kepada perempuan Kanaan, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." (Matius 15:26).

Hati Yesus penuh kasih dan belas kasihan, tak terkecuali terhadap orang berdosa. Suatu ketika ada seorang wanita yang tertangkap basah berbuat zinah. Oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi wanita itu dibawa kepada Yesus dengan tujuan meminta persetujuanNya untuk menghukumnya.

Apa tindakan Yesus? Mengijinkan orang-orang untuk main hakim sendiri? Tidak, Yesus tidak menuruti permintaan orang-orang itu, bahkan Ia menantang mereka, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7).

Akhirnya tak satu pun dari mereka berani menghakimi wanita itu. Tuhan Yesus menunjukkan kesabaranNya terhadap orang berdosa dengan tujuan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Karena itu jangan menghakimi orang lain!

Doa Renungan Harian Katolik

Tuhan dan Allah kami, Putra-Mu telah menyerahkan diri-Nya sampai wafat karena kasih-Nya kepada kami. Kami mohon, semoga berkat bantuan-Mu, kami hidup dan bertindak penuh semangat dalam kasih yang sama.

Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Terimakasih sudah membaca Renungan Harian Katolik Minggu 3 April 2022.